Oleh: Ps. Welly Massie
Di tengah dunia yang semakin keras, ada satu nilai lama yang perlahan mulai hilang:
Tepo Seliro.
Dalam budaya Jawa, Tepo Seliro sering diterjemahkan sebagai tenggang rasa. Namun sebenarnya maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar sopan santun.
Tepo berarti ukuran atau timbangan.
Seliro berarti diri sendiri.
Artinya, seseorang belajar mengukur sikapnya kepada orang lain dengan memakai dirinya sendiri sebagai ukuran.
Sederhananya:
“Kalau saya diperlakukan seperti itu, bagaimana perasaan saya?”
Di situlah inti dari kepekaan hati.
Tepo Seliro membuat seseorang tidak hidup egois. Ia belajar menempatkan dirinya di posisi orang lain. Ia menjaga perkataan, sikap, dan tindakannya karena sadar bahwa setiap manusia memiliki hati yang bisa terluka.
Itulah sebabnya budaya Jawa lama dikenal sangat halus dalam berbicara.
Orang tua zaman dulu sering memakai tembung sanepo—ungkapan halus atau sindiran bijak—daripada kata-kata kasar yang mempermalukan orang lain di depan umum.
Bukan karena takut berkata benar, tetapi karena mereka memahami bahwa kebenaran juga harus disampaikan dengan hikmat dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Menariknya, nilai luhur ini ternyata sangat dekat dengan ajaran Yesus.
Dalam Matius 7:12 Yesus berkata:
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”
Inilah yang dikenal sebagai The Golden Rule—Hukum Emas.
Dan sebenarnya, inilah inti dari Tepo Seliro:
- kalau ingin dihormati, hormatilah orang lain
- kalau tidak ingin disakiti, jangan menyakiti
- kalau ingin diperlakukan baik, perlakukan orang lain dengan baik terlebih dahulu
Namun sayangnya, dunia hari ini bergerak ke arah yang berbeda.
Banyak orang merasa bebas menghina, mempermalukan, menyerang karakter, bahkan menikmati kejatuhan orang lain—terutama di media sosial.
Orang berlomba menjadi paling benar, tetapi kehilangan kelembutan hati.
Padahal: kebenaran tanpa kasih bisa berubah menjadi kekerasan.
Kejujuran tanpa hikmat bisa melukai lebih dalam daripada kebohongan.
Tepo Seliro mengajarkan keseimbangan yang indah: kita boleh menegur, tetapi jangan merendahkan.
Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan kehilangan penghormatan kepada sesama manusia.
Karena sering kali, manusia bukan hanya membutuhkan kritik yang benar, tetapi juga hati yang mau memahami.
Yesus sendiri memberikan teladan sempurna tentang hal ini.
Ia menegur dosa, tetapi tetap mengasihi orang berdosa.
Ia berbicara benar, tetapi tidak kehilangan belas kasihan.
Yesus tidak datang untuk mempermalukan manusia, melainkan menyelamatkan manusia.
Bayangkan jika prinsip sederhana ini kembali hidup di tengah masyarakat: sebelum berbicara, sebelum menulis komentar, sebelum menghakimi orang lain—kita berhenti sejenak dan bertanya:
“Kalau saya ada di posisi dia, bagaimana perasaan saya?”
Mungkin dunia tidak langsung berubah sempurna.
Tetapi setidaknya, dunia akan menjadi sedikit lebih manusiawi.
Kesimpulan
Tepo Seliro bukan sekadar budaya lama.
Ia adalah nilai kasih, empati, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Dan di tengah dunia yang semakin kehilangan kelembutan hati, nilai ini justru semakin penting untuk dihidupi.
Karena orang yang dewasa bukan hanya tahu berkata benar, tetapi juga tahu bagaimana menjaga hati sesamanya.
GBU ALWAYS, AMIN
