Berjalan Dalam Kasih (Walk in Love)
Oleh: Ps. Welly Massie
Di zaman sekarang, kata “cinta” sering dipahami hanya sebatas perasaan. Banyak orang menghubungkannya dengan hubungan romantis, perhatian, atau keinginan untuk memiliki seseorang.
Bahkan ada guyonan yang sering terdengar:
“Kalau cinta ditolak, dukun bertindak.”
Terdengar lucu, tetapi sebenarnya menggambarkan satu jenis “cinta” yang sangat egois—cinta yang ingin memiliki, cinta yang marah ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan, cinta yang pusatnya tetap diri sendiri.
Namun kasih Tuhan sama sekali berbeda.
Kasih Tuhan bukan kasih yang mengambil.
Kasih Tuhan adalah kasih yang memberi.
Yesus datang bukan untuk mencari keuntungan dari manusia, tetapi justru menyerahkan diri-Nya bagi manusia. Ia mengasihi bahkan ketika manusia tidak membalas kasih itu.
Dan Alkitab berkata:
“Hiduplah (berjalanlah) di dalam kasih, sama seperti Kristus juga telah mengasihi kamu…”
— Efesus 5:2
Artinya, kasih bukan sekadar emosi sesaat. Kasih adalah cara hidup.
Banyak orang yang pernah mengalami Tuhan pasti mengingat masa-masa awal pertobatan mereka. Saat pertama kali merasakan hadirat Tuhan, hati begitu haus akan Dia. Mungkin belum memahami banyak doktrin. Belum hafal banyak ayat. Tetapi ada cinta yang tulus kepada Tuhan.
Yang dicari hanya satu:
dekat dengan Tuhan.
Namun seiring waktu, tanpa sadar banyak orang mulai mengganti hubungan dengan Tuhan menjadi sekadar pengetahuan tentang Tuhan.
Mulai sibuk dengan teori rohani.
Mulai bangga dengan pemahaman Alkitab.
Mulai merasa paling benar.
Padahal mengetahui banyak tentang Allah tidak selalu berarti mengenal hati Allah.
Teologi itu penting. Firman Tuhan juga penting. Tetapi semua itu seharusnya membawa kita semakin mengasihi Tuhan, bukan semakin dingin dan sombong secara rohani.
Kasih Tuhan seharusnya melembutkan hati, bukan mengeraskannya.
Ketika seseorang sungguh menyadari bahwa dirinya dikasihi Tuhan, hidupnya berubah dari dalam.
Ia tidak lagi taat karena takut dihukum.
Ia taat karena mengasihi Tuhan.
Ia tidak lagi melayani karena terpaksa.
Ia melayani karena penuh rasa syukur.
Kasih Tuhan memberi rasa aman yang tidak bisa diberikan dunia.
Seperti seorang anak kecil yang yakin ayahnya mengasihinya.
Anak kecil tidak bangun pagi dengan ketakutan: “Apakah hari ini papa masih mau memberiku makan?”
Ia tenang saja.
Ia percaya saja.
Mengapa?
Karena ia yakin dirinya dikasihi.
Begitu pula dengan orang yang berjalan dalam kasih Tuhan.
Ia tidak hidup dikuasai kekhawatiran terus-menerus. Ia percaya bahwa Bapa di sorga mengetahui apa yang ia butuhkan.
Yesus berkata:
“Janganlah kamu kuatir…”
— Matius 6:31–32
Orang yang mengenal kasih Bapa akan memiliki hati yang tenang, bahkan ketika dunia di sekelilingnya tidak pasti.
Bukan karena hidupnya tanpa masalah.
Tetapi karena ia tahu siapa yang memegang hidupnya.
Kasih Tuhan lebih besar daripada ketakutan.
Kasih Tuhan lebih kuat daripada kecemasan.
Kasih Tuhan cukup untuk menopang hidup kita setiap hari.
Berjalan dalam kasih berarti belajar mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan.
Dan ketika kita hidup di dalam kasih-Nya, dunia boleh berubah, keadaan boleh tidak menentu, tetapi hati kita tetap aman.
Karena kita tahu satu hal:
Bapa di sorga tidak pernah gagal memelihara anak-anak-Nya.
GBU all, Amin
