Spread the love

Oleh: Ps. Welly Massie

Pelikotanews.com – Salah satu luka terdalam dalam hidup manusia adalah ketika merasa diperlakukan tidak adil.

Banyak orang bisa menerima kegagalan, tetapi sulit menerima ketidakadilan. Sebab ada rasa sakit ketika seseorang dihukum atas kesalahan yang tidak ia lakukan, difitnah tanpa alasan, atau diperlakukan berbeda meskipun sudah berbuat benar.

Ironisnya, ketidakadilan sering muncul justru di tempat yang seharusnya menghadirkan keadilan.

Pengkhotbah berkata:

“Di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.”
— Pengkhotbah 3:16

Kalimat ini terasa sangat relevan sampai hari ini.

Kita hidup di dunia yang sering kali membingungkan:

  • yang benar bisa dikalahkan
  • yang salah bisa dibenarkan
  • hukum bisa dipermainkan
  • bahkan kejujuran terkadang dianggap kelemahan

Tidak heran banyak orang akhirnya hidup dalam kemarahan dan kepahitan.

Namun pertanyaannya bukan hanya: “Apakah dunia ini adil?”

Tetapi: “Bagaimana sikap hati kita ketika menghadapi ketidakadilan?”

Ada satu kisah sederhana yang mengandung pelajaran besar.

Seorang anak pulang dari sekolah dengan marah karena dihukum atas kesalahan yang bukan ia lakukan. Ia kecewa kepada gurunya. Tetapi orang tuanya berkata:

“Terima saja. Jangan membenci gurumu. Belajarlah mengampuni. Dunia ini memang tidak selalu adil, tetapi Tuhan sedang membentuk hatimu menjadi lebih kuat.”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat dalam.

Karena kenyataannya, dunia memang tidak memiliki keadilan yang sempurna.

Bahkan nabi Yesaya sudah menggambarkan keadaan ini ribuan tahun lalu:

“Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap…”
— Yesaya 1:23

Zaman berubah, teknologi berkembang, tetapi hati manusia tanpa Tuhan tetap sama.

Lalu apa yang harus dilakukan orang percaya?

1. Jangan hidup dalam kepahitan

Ketidakadilan bisa melukai hati, tetapi jangan biarkan luka itu berubah menjadi racun dalam jiwa kita.

Mengapa?

Karena Tuhan tidak pernah kehilangan takhta-Nya sebagai Hakim yang adil.

Mungkin manusia gagal memberi keadilan.
Mungkin dunia salah menilai.
Mungkin orang lain memutarbalikkan fakta.

Tetapi tidak ada satu pun yang tersembunyi di hadapan Tuhan.

Daud memahami hal ini. Ia dikejar, difitnah, bahkan hendak dibunuh oleh Saul bukan karena kejahatan, tetapi karena iri hati. Namun Daud memilih menyerahkan pembelaannya kepada Tuhan.

Dan pada waktunya, Tuhan sendiri yang membela Daud.

2. Jangan berubah menjadi tidak adil

Ini bagian yang paling sulit.

Sering kali orang yang terluka justru melukai orang lain. Orang yang diperlakukan tidak adil akhirnya menjadi pribadi yang keras, sinis, dan tidak adil juga kepada sesamanya.

Firman Tuhan berkata:

“Janganlah memutarbalikkan keadilan…”
— Ulangan 16:19

Artinya, sekalipun dunia di sekitar kita gelap, anak Tuhan tetap dipanggil hidup dalam:

  • kejujuran
  • integritas
  • dan keadilan

Jangan biarkan kerasnya dunia mengubah hati kita menjadi pahit.

Tetaplah benar meskipun diperlakukan tidak benar.
Tetaplah jujur meskipun dunia penuh tipu daya.
Tetaplah adil meskipun sering mengalami ketidakadilan.

Karena pada akhirnya, keputusan terakhir bukan ada di tangan manusia.

Ada Hakim yang tidak pernah salah memberi keputusan.

Dan ketika waktunya tiba, Tuhan tahu bagaimana membela anak-anak-Nya.


Kesimpulan

Dunia mungkin kehilangan keadilan, tetapi Tuhan tidak pernah kehilangan kebenaran-Nya.

Karena itu, jangan menyerahkan hatimu kepada kepahitan. Tetap berjalan dalam kasih, kejujuran, dan integritas.

Sebab mungkin manusia bisa salah menilai kita…
tetapi Tuhan tidak pernah salah melihat hati manusia.

GBU ALL, AMIN 🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *