Oleh: Ps. Welly Massie
Pelitkotanews.com Ada perkataan Yesus yang sampai hari ini masih terasa sulit diterima akal manusia:
“Barangsiapa menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.”
— Matius 5:39
Bagi banyak orang, perkataan ini terdengar tidak masuk akal. Terlalu berat. Bahkan dianggap tidak realistis.
Sebab naluri manusia ketika disakiti adalah membalas.
Kalau tidak membalas, setidaknya menjauh.
Karena itu, banyak orang berpikir bahwa perkataan Yesus ini hanyalah simbol atau metafora yang mustahil dilakukan dalam kehidupan nyata.
Namun mungkin kita selama ini melihat ayat ini dari sudut yang salah.
Coba bayangkan ketika seorang anak kecil menampar wajah kita.
Apakah kita marah besar?
Apakah kita membalas tamparannya?
Biasanya tidak.
Kita justru tersenyum atau memakluminya. Mengapa? Karena kita sadar bahwa anak kecil belum memahami sepenuhnya apa yang ia lakukan. Tindakannya lahir dari ketidakdewasaan, bukan dari kebencian yang matang.
Di titik inilah perkataan Yesus mulai terasa berbeda.
Ketika Yesus disalibkan, Ia berkata:
“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
— Lukas 23:34
Kalimat ini sangat dalam.
Yesus tidak sedang mengatakan bahwa tindakan mereka benar. Penyaliban tetaplah kejahatan dan ketidakadilan. Tetapi Yesus melihat lebih dalam daripada sekadar tindakan luar.
Ia melihat hati manusia yang buta secara rohani.
Para imam kepala, ahli Taurat, dan orang-orang yang menolak Yesus mungkin terlihat dewasa secara usia, memiliki jabatan agama, bahkan memahami hukum Taurat. Namun di mata Yesus, mereka masih seperti anak-anak secara rohani—belum mengerti apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan.
Karena orang yang dewasa rohani tidak akan menikmati kebencian.
Tidak akan bersukacita melihat orang lain jatuh.
Tidak akan merasa puas ketika melukai sesamanya.
Kasih selalu melihat lebih jauh.
Kasih melihat luka di balik kemarahan.
Kasih melihat kepahitan di balik kekerasan.
Kasih melihat jiwa yang belum dewasa di balik tindakan yang menyakitkan.
Itulah sebabnya Yesus tidak membalas.
Padahal Ia mampu.
Ia bisa memanggil bala tentara surga.
Ia bisa menghancurkan mereka dalam sekejap.
Tetapi kasih memilih jalan yang berbeda.
Kasih memilih mengampuni.
Kasih memilih tidak membalas dengan roh yang sama.
Mungkin inilah makna terdalam dari “memberikan pipi kiri.”
Bukan berarti menikmati penderitaan.
Bukan berarti membiarkan kejahatan berkuasa.
Tetapi memilih untuk tidak dikuasai oleh kebencian yang sama seperti dunia.
Dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang dewasa secara rohani.
Sebab kedewasaan rohani bukan terlihat dari seberapa keras seseorang mempertahankan dirinya, melainkan dari seberapa besar ia mampu mengasihi ketika disakiti.
Membalas adalah reaksi alami manusia.
Tetapi mengampuni adalah karakter Kristus.
Dan ketika kita memilih untuk tidak membalas dengan kebencian yang sama, di situlah dunia melihat kasih Tuhan bekerja di dalam hidup kita.
GBU ALL, AMIN 🙏
