Lose Salvation or Leave Salvation?
Ketika Keselamatan Ditinggalkan, Bukan Sekadar Hilang
Oleh: Ps. Welly Massie
Pelitkotanews.com Berita tentang seorang pendeta yang memutuskan meninggalkan iman Kristen sering kali mengguncang banyak orang percaya. Bukan hanya karena sosoknya dikenal, tetapi karena muncul pertanyaan yang sangat mendasar:
Apakah orang yang pernah percaya bisa meninggalkan keselamatan?
Bukankah ada ajaran “sekali selamat tetap selamat”?
Kalau akhirnya murtad, apakah berarti sejak awal ia tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukan sekadar debat teologi. Ini menyentuh inti hubungan manusia dengan Tuhan.
Memang ada kemungkinan seseorang hidup dalam lingkungan Kristen, melayani di gereja, bahkan menjadi pemimpin rohani tanpa pernah mengalami kelahiran baru yang sejati. Secara lahiriah terlihat rohani, tetapi hatinya tidak pernah sungguh-sungguh mengenal Kristus.
Namun Alkitab juga menunjukkan kemungkinan lain yang lebih sulit diterima:
seseorang bisa saja pernah sungguh mengalami Tuhan, tetapi kemudian memilih meninggalkan-Nya.
Ibrani 6:4–6 menjelaskan tentang orang-orang yang:
- pernah diterangi hatinya
- pernah mengecap karunia sorgawi
- pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus
Artinya, mereka bukan orang asing terhadap pengalaman rohani. Mereka pernah mengalami realitas Tuhan secara nyata. Tetapi kemudian mereka memilih meninggalkan Kristus.
Di sinilah pentingnya memahami perbedaan antara jatuh dalam dosa dan kemurtadan.
Orang percaya bisa jatuh karena kelemahan.
Bisa gagal.
Bisa bergumul.
Bahkan bisa mengalami musim dingin rohani.
Namun kemurtadan berbeda.
Kemurtadan bukan sekadar kelemahan manusia.
Kemurtadan adalah keputusan sadar untuk menolak Kristus yang dahulu pernah diakui sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Karena itu, mungkin istilah yang lebih tepat bukan “kehilangan keselamatan” (lose salvation), melainkan “meninggalkan keselamatan” (leave salvation).
Sebab Tuhan tidak berubah setia.
Kasih karunia-Nya tidak mudah dibatalkan hanya karena kelemahan manusia. Tuhan tidak membuang orang hanya karena pergumulan, kegagalan, atau luka hidup.
Tetapi Tuhan juga tidak mencabut kehendak bebas manusia.
Manusia tetap memiliki pilihan: tetap tinggal di dalam Kristus, atau pergi meninggalkan-Nya.
Ilustrasinya seperti hubungan antara ayah dan anak.
Seorang anak bisa memberontak, melukai hati ayahnya, bahkan hidup jauh dari keluarganya. Tetapi seorang ayah tidak berhenti mengakui dia sebagai anak.
Namun bagaimana jika anak itu sendiri yang datang dan berkata: “Aku tidak mau lagi memakai nama keluargamu. Aku memutuskan hubungan ini.”
Di titik itu, bukan sang ayah yang membuang anaknya.
Anak itulah yang memilih pergi.
Begitu juga dengan hubungan manusia dengan Tuhan.
Keselamatan bukan sekadar “status rohani” yang pernah dimiliki di masa lalu. Keselamatan adalah hubungan yang harus terus dijaga dalam iman dan kesetiaan.
Itulah sebabnya Yudas 1:3 berkata agar kita: “tetap berjuang mempertahankan iman.”
Artinya, iman bukan sesuatu yang otomatis berjalan sendiri tanpa penjagaan. Iman harus dipelihara:
- melalui hubungan dengan Tuhan
- melalui ketaatan
- melalui hidup dalam kebenaran
- dan melalui ketekunan sampai akhir
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan hanya bagaimana seseorang memulai bersama Kristus, tetapi bagaimana ia tetap setia sampai garis akhir kehidupannya.
Kesimpulan
Tuhan tidak pernah berubah setia.
Namun manusia tetap memiliki pilihan untuk tinggal atau pergi.
Karena itu, jangan hanya bangga pernah mengenal Tuhan di masa lalu.
Pastikan hati kita tetap berjalan bersama-Nya hari ini… dan sampai akhir.
Sebab iman sejati bukan hanya tentang memulai perjalanan bersama Kristus, tetapi tetap bertahan bersama-Nya sampai garis akhir.
GBU All, Amin
