Spread the love

PEMIMPIN SEJATI TIDAK DICIPTAKAN OLEH JABATAN

“Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya dan yang benci kepada pengejaran suap…”
(Keluaran 18:21)

Penulis: Ps. Welly Massie

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang kepemimpinan adalah anggapan bahwa seseorang menjadi pemimpin karena memiliki jabatan. Padahal Alkitab menunjukkan bahwa jabatan dan kepemimpinan bukanlah hal yang sama.

Tidak sedikit orang memiliki posisi tinggi, tetapi gagal memimpin. Sebaliknya, ada orang yang tidak memiliki gelar, tidak memiliki kursi kekuasaan, bahkan tidak dikenal banyak orang, tetapi kehadirannya membawa pengaruh yang positif bagi lingkungan di sekitarnya.

Inilah sebabnya pertanyaan tentang kepemimpinan selalu menarik: apakah pemimpin dilahirkan atau dibentuk?

Sebagian orang memang memiliki bakat alami untuk memimpin. Mereka mudah berkomunikasi, berani mengambil keputusan, dan mampu memengaruhi orang lain. Namun Alkitab menunjukkan bahwa kualitas terpenting seorang pemimpin bukanlah bakat, melainkan karakter.

Ketika Yitro menasihati Musa untuk memilih para pemimpin bagi bangsa Israel, ia tidak berkata, “Carilah orang yang paling populer,” atau “Carilah orang yang paling pandai berbicara.”

Sebaliknya, ia berkata:

“Carilah orang yang takut akan Allah, dapat dipercaya, dan membenci suap.”

Mengapa?

Karena kemampuan dapat dipelajari, tetapi karakter menentukan bagaimana kemampuan itu digunakan.

Tuhan Lebih Tertarik Membentuk Daripada Mengangkat

Ketika Tuhan memanggil Musa, ia bukan seorang pemimpin yang percaya diri. Bahkan Musa berulang kali menolak panggilan Tuhan karena merasa tidak mampu.

Ketika Tuhan memilih Daud, ia hanyalah seorang gembala muda yang tidak diperhitungkan oleh keluarganya sendiri.

Ketika Tuhan memakai Petrus, ia adalah nelayan yang impulsif dan sering melakukan kesalahan.

Tuhan tidak mencari orang yang sudah sempurna.

Tuhan mencari orang yang mau dibentuk.

Sepanjang Alkitab kita melihat pola yang sama: Tuhan lebih dahulu membentuk karakter sebelum mempercayakan pengaruh.

Karena seseorang yang memiliki pengaruh tanpa karakter akan menjadi bahaya bagi banyak orang.

Kepemimpinan Dimulai dari Kesetiaan Kecil

Dunia sering mengajarkan bahwa kepemimpinan identik dengan posisi tertinggi.

Namun Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda.

“Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”
(Matius 20:26)

Menurut Kerajaan Allah, pemimpin bukanlah orang yang paling banyak dilayani, melainkan orang yang paling siap melayani.

Kepemimpinan dimulai ketika seseorang bertanggung jawab terhadap hal-hal kecil.

Memimpin diri sendiri.

Memimpin perkataan.

Memimpin emosi.

Memimpin keluarga.

Memimpin pekerjaan yang dipercayakan kepadanya.

Seseorang yang tidak dapat dipercaya dalam perkara kecil tidak akan siap memikul perkara besar.

Krisis Kepemimpinan Zaman Ini

Salah satu krisis terbesar zaman modern bukanlah kurangnya orang pintar, melainkan kurangnya pemimpin yang berintegritas.

Banyak orang ingin posisi, tetapi tidak ingin proses.

Ingin dihormati, tetapi tidak mau melayani.

Ingin berkuasa, tetapi tidak mau bertanggung jawab.

Akibatnya lahirlah pemimpin yang hebat dalam pencitraan tetapi lemah dalam karakter.

Padahal kepemimpinan sejati tidak diukur dari berapa banyak orang yang mengikuti kita, melainkan dari seberapa besar hidup kita menjadi teladan bagi mereka.

Pemimpin Menurut Hati Tuhan

Pemimpin menurut hati Tuhan adalah orang yang:

  • Takut akan Allah lebih daripada takut kehilangan jabatan.
  • Mengutamakan kebenaran lebih daripada popularitas.
  • Menjaga integritas ketika tidak ada yang melihat.
  • Tetap melayani meskipun tidak mendapatkan pujian.
  • Bersedia bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya.

Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang posisi di atas manusia, melainkan tentang kesetiaan di hadapan Tuhan.

Renungan Hari Ini

Mungkin Tuhan belum memercayakan kita memimpin banyak orang.

Namun setiap hari Tuhan sedang memberikan kesempatan untuk belajar menjadi pemimpin yang benar.

Melalui tanggung jawab kecil.

Melalui keputusan-keputusan sederhana.

Melalui kesetiaan dalam hal-hal yang sering tidak diperhatikan orang lain.

Sebab pemimpin besar tidak lahir dalam semalam.

Mereka dibentuk melalui proses panjang, kesetiaan yang konsisten, dan karakter yang terus diserahkan kepada Tuhan.

Karena itu jangan hanya bertanya:

“Kapan saya menjadi pemimpin?”

Tetapi bertanyalah:

“Apakah saya sedang menjadi pribadi yang layak dipercaya Tuhan untuk memimpin?”

Sebab kepemimpinan sejati bukanlah soal jabatan yang diberikan manusia, melainkan karakter yang dibentuk oleh Tuhan setiap hari.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *