Kenaikan Adalah Penobatan Kristus Sebagai Raja
Oleh: Ps. Welly Massie
Banyak orang memahami kenaikan Yesus hanya sebagai peristiwa “Yesus kembali ke sorga.” Padahal Alkitab menunjukkan bahwa kenaikan Kristus memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar perpisahan antara Yesus dan murid-murid-Nya.
Kenaikan adalah deklarasi sorga bahwa Kristus telah dinobatkan sebagai Raja.
Empat puluh hari setelah kebangkitan-Nya, Yesus naik ke sorga dan “duduk di sebelah kanan Allah.” Ini bukan berbicara tentang posisi fisik seolah Allah memiliki kursi di samping-Nya. Dalam bahasa kerajaan, duduk di sebelah kanan berarti menerima kehormatan tertinggi, otoritas pemerintahan, dan kuasa kerajaan.
Mazmur 110:1 berkata:
“Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.”
Yesus yang dahulu dihina, dicambuk, dan disalibkan kini dimuliakan sebagai Raja atas segala sesuatu.
Inilah inti dari kenaikan Kristus: salib bukan akhir cerita.
Kebangkitan bukan puncak terakhir.
Kenaikan adalah penobatan Sang Raja yang menang.
Dan kalau Kristus benar-benar Raja, maka hidup orang percaya tidak bisa berjalan sesuka hati.
Kolose 1:18 berkata bahwa Kristus adalah Kepala jemaat. Artinya gereja bukan milik manusia. Bukan milik organisasi. Bukan milik tokoh tertentu.
Gereja adalah milik Sang Raja.
Karena itu seluruh hidup kita seharusnya berada di bawah pemerintahan Kristus:
- cara kita hidup
- cara kita bekerja
- cara kita memakai uang
- cara kita memimpin keluarga
- bahkan cara kita melayani
semuanya harus tunduk kepada kehendak Raja.
Kenaikan Kristus juga memberi pengharapan besar bagi gereja.
Dunia hari ini dipenuhi ketakutan, krisis, perang, ketidakpastian ekonomi, dan kekacauan moral. Banyak orang hidup seolah dunia berjalan tanpa arah.
Namun Efesus 1:20–22 berkata bahwa Kristus telah ditempatkan jauh di atas segala pemerintah, kuasa, dan kerajaan.
Artinya: takhta tertinggi alam semesta tidak kosong.
Raja kita hidup.
Raja kita memerintah.
Dan tidak ada kuasa apa pun yang lebih tinggi daripada Dia.
Karena itu gereja tidak boleh hidup dengan mental kalah.
Ya, kita menghadapi peperangan.
Ya, kita hidup di tengah dunia yang gelap.
Tetapi kita berjuang dari posisi Raja yang sudah menang.
Kenaikan Kristus juga berarti gereja dipanggil menjadi duta Kerajaan Allah di bumi.
Sesudah menerima segala kuasa, Yesus mengutus murid-murid-Nya pergi menjadikan semua bangsa murid-Nya.
Artinya gereja bukan sekadar tempat ibadah setiap Minggu.
Gereja adalah perwakilan Kerajaan Allah di tengah dunia.
Di mana ada orang percaya, di situ nilai Kerajaan Allah seharusnya hadir:
- kasih
- kejujuran
- kekudusan
- kebenaran
- dan damai sejahtera
Kenaikan Kristus juga mengingatkan bahwa warga Kerajaan dipanggil hidup kudus.
Raja yang menang telah naik takhta, maka kita tidak boleh terus hidup diperbudak dosa.
Anugerah memang menyelamatkan kita, tetapi anugerah juga membentuk hidup kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.
Dan akhirnya, kenaikan Kristus mengingatkan satu pengharapan besar: Raja itu akan datang kembali.
Takhta sorga tidak kosong.
Yesus Kristus hidup.
Ia memerintah hari ini.
Dan suatu hari nanti Ia akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya.
Kesimpulan
Kenaikan Kristus bukan sekadar Yesus “pulang ke sorga.”
Kenaikan adalah penobatan Sang Raja yang menang atas dosa, maut, dan kuasa kegelapan.
Karena itu gereja dipanggil untuk hidup tunduk kepada pemerintahan-Nya, berjalan dalam kekudusan, dan tetap setia sampai Raja datang kembali.
Haleluya!
Kristus hidup dan memerintah untuk selama-lamanya.
GBU ALWAYS, AMIN
