Spread the love

KETIKA YESUS HERAN ; Apakah Tuhan Melihat Iman atau Ketidakpercayaan dalam Hidup Kita?

“Ia heran atas ketidakpercayaan mereka.”
(Markus 6:6)

Penulis: Ps. Welly Massie

Dalam Injil, ada banyak hal yang membuat manusia heran kepada Yesus. Orang banyak heran melihat mujizat-Nya. Murid-murid heran melihat kuasa-Nya atas badai. Para pemimpin agama heran mendengar hikmat-Nya.

Namun ada sesuatu yang jauh lebih menarik: Alkitab mencatat bahwa Yesus sendiri pernah merasa heran.

Bukan karena besarnya gunung.

Bukan karena luasnya lautan.

Bukan karena hebatnya kerajaan dunia.

Yesus heran karena kondisi hati manusia.

Dan yang mengejutkan, ada dua hal yang membuat-Nya heran: ketidakpercayaan yang besar dan iman yang besar.

Bahaya Merasa Terlalu Mengenal Tuhan

Ketika Yesus datang ke Nazaret, kampung halaman-Nya sendiri, orang-orang mengenal-Nya sejak kecil.

Mereka tahu keluarga-Nya.

Mereka tahu pekerjaan-Nya sebagai tukang kayu.

Mereka tahu lingkungan tempat Ia bertumbuh.

Namun justru karena merasa mengenal Yesus, mereka gagal mengenali siapa Dia sebenarnya.

Mereka melihat manusia-Nya, tetapi tidak melihat Mesias-Nya.

Mereka melihat asal-usul-Nya, tetapi tidak melihat kemuliaan-Nya.

Akibatnya, hati mereka tertutup oleh prasangka dan ketidakpercayaan.

Ironisnya, orang-orang yang paling dekat secara fisik dengan Yesus justru menjadi orang yang paling sulit percaya kepada-Nya.

Di sinilah kita belajar bahwa kedekatan dengan aktivitas rohani tidak selalu menghasilkan iman yang sejati.

Seseorang bisa bertahun-tahun berada di gereja, mendengar khotbah, melayani, bahkan memahami banyak ayat Alkitab, tetapi tetap kehilangan rasa hormat dan ketergantungan kepada Tuhan.

Ketika Tuhan dianggap biasa, iman perlahan menjadi dingin.

Iman yang Membuat Yesus Takjub

Sebaliknya, seorang perwira Romawi datang kepada Yesus dengan sikap yang sangat berbeda.

Ia bukan ahli Taurat.

Ia bukan pemimpin sinagoge.

Ia bahkan bukan bagian dari bangsa perjanjian.

Namun ia memahami sesuatu yang gagal dipahami banyak orang.

Ia memahami otoritas Kristus.

Ia berkata:

“Katakan saja sepatah kata, maka hambaku akan sembuh.” (Lukas 7:7)

Perwira itu percaya bahwa kuasa Yesus tidak dibatasi oleh jarak, tempat, maupun keadaan.

Ia percaya bahwa firman Tuhan memiliki otoritas yang mutlak.

Mendengar perkataan itu, Yesus heran dan berkata bahwa Ia belum pernah menemukan iman sebesar itu di antara orang Israel.

Apa yang membuat iman perwira itu begitu istimewa?

Bukan karena pengetahuannya yang luas.

Bukan karena status sosialnya.

Tetapi karena ia sungguh percaya kepada siapa Yesus itu.

Iman Bukan Sekadar Percaya Tuhan Ada

Banyak orang berkata bahwa mereka percaya kepada Tuhan.

Tetapi iman Alkitabiah lebih dari sekadar mengakui keberadaan Tuhan.

Iman adalah mempercayai karakter-Nya.

Iman adalah menghormati otoritas-Nya.

Iman adalah tetap berpegang pada firman-Nya meskipun keadaan belum berubah.

Ketika doa belum dijawab, iman tetap percaya.

Ketika jalan keluar belum terlihat, iman tetap berharap.

Ketika badai belum berhenti, iman tetap memandang kepada Kristus.

Iman tidak bergantung pada apa yang dilihat mata, tetapi pada siapa yang kita percayai.

Apakah Yesus Akan Heran Karena Kita?

Pertanyaan yang penting untuk direnungkan hari ini adalah:

Jika Yesus melihat hidup kita sekarang, apakah Ia akan heran karena ketidakpercayaan kita atau heran karena iman kita?

Apakah kita masih menghormati-Nya sebagai Tuhan atas hidup kita?

Apakah kita benar-benar percaya kepada firman-Nya ketika keadaan tidak sesuai harapan?

Ataukah kita hanya percaya ketika segala sesuatu berjalan baik?

Iman sejati tidak diuji saat semuanya mudah.

Iman sejati terlihat ketika kita tetap percaya meskipun belum melihat hasilnya.

Orang Nazaret melihat Yesus setiap hari, tetapi tidak percaya.

Perwira Romawi tidak hidup bersama Yesus, tetapi mempercayai-Nya sepenuh hati.

Perbedaannya bukan pada seberapa dekat mereka dengan Yesus secara fisik, tetapi pada bagaimana mereka merespons-Nya dengan iman.

Hari ini Tuhan masih mencari hati yang percaya.

Bukan hati yang hanya kagum sesaat.

Bukan hati yang hanya mencari mujizat.

Tetapi hati yang menghormati-Nya sebagai Raja dan mempercayai firman-Nya dalam segala keadaan.

Sebab iman yang sejati berkata:

“Walaupun gunung itu tidak berpindah, walaupun keadaan belum berubah, aku tetap percaya kepada Tuhan yang memegang segala sesuatu dalam tangan-Nya.”

Karena Dia tetap berkuasa.

Dia tetap setia.

Dan Dia tidak pernah gagal menepati janji-Nya.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *