Spread the loveTRADISI TETAP LESTARI, NELAYAN POPOH SAMBUT SATU SURO DENGAN WILUJENGAN DAN KENDURI Tulungagung,pelitakota- Angin laut Pantai Indah Popoh, Kecamatan Besuki, menjadi saksi malam penuh khidmat. Senin 15 Juni 2026, masyarakat nelayan Popoh menggelar prosesi wilujengan menyambut Tahun Baru Jawa dan 1 Muharram. Tradisi turun-temurun ini kembali digelar untuk memohon keselamatan, tolak bala, dan keberkahan hasil laut. Plt Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M. hadir langsung memimpin prosesi. Puncak acara ditandai dengan penanaman kepala kambing kendit di kawasan Pantai Popoh. Kambing kendit dipilih sebagai simbol doa. Kepalanya ditanam dengan harapan agar para nelayan diberi perlindungan dari marabahaya di tengah laut, ombak dan cuaca buruk dijauhkan, serta tangkapan ikan semakin melimpah dan membawa rezeki berkah untuk keluarga. Bagi masyarakat pesisir Popoh, wilujengan Satu Suro bukan sekadar ritual. Ini wujud syukur, wujud kerukunan, dan wujud cinta pada budaya leluhur. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini tetap hidup karena diwariskan dari orang tua ke anak, dari generasi ke generasi. Prosesi ini mengikat warga nelayan dalam satu rasa: sama-sama menggantungkan hidup pada laut, sama-sama butuh doa dan kebersamaan. Dalam sambutannya Ahmad Baharudin mengapresiasi semangat warga pesisir yang konsisten menjaga kearifan lokal. Menurutnya malam Satu Suro adalah momentum penting. Bukan hanya untuk ritual budaya, tapi untuk memperkuat persaudaraan antar nelayan, memperkuat identitas budaya Tulungagung, dan memperkuat doa bersama agar laut selatan selalu bersahabat. “Semoga dengan wilujengan ini, para nelayan diberi keselamatan, dijauhkan dari musibah, dan rezekinya dilancarkan. Hasil laut melimpah, berkah untuk keluarga dan masyarakat,” ujar Ahmad Baharudin di hadapan warga. Acara dihadiri tokoh masyarakat, tokoh agama, perangkat Kecamatan Besuki, kelompok nelayan, dan warga sekitar Pantai Popoh. Prosesi ditutup dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama, dilanjutkan kenduri. Tumpeng dan hidangan sederhana dibagikan sebagai simbol rasa syukur atas nikmat laut yang sudah diberikan setahun terakhir. Tradisi wilujengan di Pantai Popoh membuktikan satu hal: selama laut masih jadi nadi kehidupan, selama warga masih percaya pada doa dan kebersamaan, maka budaya leluhur akan tetap lestari. Satu Suro bukan sekadar pergantian tahun, tapi pengingat bahwa manusia dan alam harus selalu selaras.(Dian) Post Views: 18 Navigasi pos Dr. Syeikh Aby Hamdani Al-Caruban Alkaf : Jadikan 1 Muharram Sebagai Momentum Hijrah Hati! Musda SWI Depok 2026 Mulai Jadi Sorotan, Dinamika Kepemimpinan Menghangat Jelang Pemilihan Ketua Baru