Spread the loveLIYAN (THE OTHERS) Ketika Orang Lain Tidak Lagi Menjadi “Orang Lain” “Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (Galatia 5:14) Penulis: Ps. Welly Massie Kata “liyan” dalam bahasa Jawa berarti orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah ini sering digunakan untuk menunjuk mereka yang berada di luar lingkaran kita: berbeda suku, berbeda agama, berbeda budaya, berbeda pandangan politik, atau bahkan berbeda status sosial. Sekilas kata ini terdengar biasa. Namun di baliknya tersimpan sebuah pertanyaan penting yang telah menyertai perjalanan manusia sepanjang sejarah: Bagaimana kita memandang orang yang berbeda dari diri kita? Banyak konflik besar tidak lahir karena perbedaan itu sendiri. Konflik sering muncul ketika perbedaan berubah menjadi kecurigaan, prasangka, dan ketakutan. Saat itulah “sesama” berubah menjadi “liyan” — orang asing yang dianggap ancaman. Padahal keberagaman bukanlah hal baru dalam kehidupan manusia. Nusantara sejak dahulu dibangun di atas keberagaman bahasa, budaya, suku, dan keyakinan. Para pendiri bangsa merumuskan semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukan karena semua orang sama, melainkan karena mereka menyadari bahwa perbedaan adalah kenyataan yang harus dikelola dengan kebijaksanaan. Namun Injil Kristus membawa kita melangkah lebih jauh dari sekadar hidup berdampingan. Kasih Melampaui Toleransi Toleransi adalah nilai yang penting. Toleransi membuat kita menghormati hak orang lain untuk berbeda. Tetapi kasih yang diajarkan Kristus melampaui toleransi. Toleransi berkata: “Aku menerima bahwa engkau berbeda.” Kasih berkata: “Aku tetap melihatmu sebagai manusia yang berharga di hadapan Allah.” Itulah sebabnya Yesus tidak pernah membatasi kasih hanya kepada kelompok tertentu. Ketika orang Yahudi memusuhi orang Samaria, Yesus justru menjadikan seorang Samaria sebagai teladan kasih dalam perumpamaan-Nya. Ketika masyarakat menolak para pemungut cukai dan orang berdosa, Yesus tetap mendatangi mereka. Ketika banyak orang hanya melihat label, Yesus melihat manusia. Karena bagi Tuhan, nilai seseorang tidak ditentukan oleh kelompoknya, tetapi oleh fakta bahwa ia adalah ciptaan Allah. Bahaya Ketika “Liyan” Menjadi Musuh Salah satu gejala zaman modern adalah semakin mudahnya manusia membangun tembok pemisah. Media sosial sering membuat orang hanya mendengar suara yang sama dengan dirinya. Akibatnya, setiap perbedaan terasa mengancam. Sedikit berbeda dianggap musuh. Sedikit tidak setuju dianggap lawan. Sedikit kritik dianggap serangan. Padahal orang yang hidup dalam kasih tidak perlu merasa terancam oleh keberadaan orang lain. Mengapa? Karena identitasnya tidak dibangun di atas rasa takut, tetapi di atas kasih Allah. Orang yang tahu dirinya dikasihi Tuhan tidak perlu merendahkan orang lain untuk merasa bernilai. Buah Roh Mengubah Cara Kita Melihat Sesama Rasul Paulus menjelaskan bahwa kehidupan yang dipimpin Roh Kudus menghasilkan: Kasih Sukacita Damai sejahtera Kesabaran Kemurahan Kebaikan Kesetiaan Kelemahlembutan Penguasaan diri (Galatia 5:22-23) Perhatikan bahwa sebagian besar buah Roh berkaitan dengan hubungan antarmanusia. Artinya, kedewasaan rohani tidak hanya terlihat dari hubungan kita dengan Tuhan, tetapi juga dari cara kita memperlakukan sesama. Semakin seseorang bertumbuh dalam Kristus, seharusnya semakin besar kapasitasnya untuk mengasihi, memahami, dan menghormati orang lain. Renungan Hari Ini Siapakah “liyan” dalam hidup kita? Apakah mereka yang berbeda keyakinan? Berbeda pilihan politik? Berbeda budaya? Berbeda latar belakang? Mungkin Tuhan sedang mengingatkan kita bahwa sebelum seseorang menjadi anggota kelompok tertentu, ia terlebih dahulu adalah manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Dan karena itu, ia layak diperlakukan dengan hormat dan kasih. Kesimpulan Liyan (The Others) bukanlah tentang menghapus perbedaan. Perbedaan tetap ada. Namun kasih Kristus mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus berubah menjadi permusuhan. Orang yang berbeda bukanlah ancaman. Mereka adalah sesama manusia yang memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan. Karena spiritualitas sejati dimulai ketika kita berhenti melihat orang lain sebagai “mereka”, dan mulai melihat mereka sebagai “sesama”. Kasih tidak sekadar mentoleransi keberadaan orang lain. Kasih mengakui kemanusiaannya. Dan di situlah hati Kristus mulai nyata dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati. Amin. Post Views: 49 Navigasi pos PEMIMPIN SEJATI TIDAK DICIPTAKAN OLEH JABATAN