MENGENAL ALLAH YANG HADIR: IMAN DI TENGAH KETIDAKPASTIAN
“TUHAN itu dekat kepada semua orang yang berseru kepada-Nya, kepada semua yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.” — Mazmur 145:18
Dalam perjalanan iman, ada masa ketika doa terasa tidak segera dijawab dan keadaan tidak langsung berubah. Banyak orang mengartikan situasi itu sebagai “Tuhan diam”. Namun dalam pemahaman Alkitab, diamnya Tuhan bukan berarti ketidakhadiran-Nya, melainkan cara-Nya bekerja yang sering kali melampaui persepsi kita.
Alkitab tidak pernah menggambarkan Allah sebagai pribadi yang jauh dan tidak peduli. Sebaliknya, Ia adalah Allah yang hadir, memelihara, dan bekerja secara aktif di dalam sejarah dan kehidupan umat-Nya.
IMAN TIDAK SELALU TENTANG MERASA, TETAPI TENTANG MEMERCAYA
Salah satu kesalahan umum dalam kehidupan rohani adalah menyamakan kehadiran Tuhan dengan perasaan tenang atau keadaan yang mudah. Padahal iman sejati tidak selalu berjalan di atas emosi, tetapi di atas kebenaran firman Tuhan.
Mazmur 145:18 menegaskan bahwa Tuhan dekat kepada mereka yang berseru kepada-Nya. Kedekatan ini bukan ditentukan oleh situasi, tetapi oleh karakter Allah sendiri yang setia.
Dalam Perjanjian Lama, Yusuf mengalami proses panjang yang tidak mudah. Dari sumur, perbudakan, hingga penjara. Namun Alkitab menunjukkan bahwa “TUHAN menyertai Yusuf” bahkan ketika keadaan belum berubah (Kejadian 39:21). Artinya, penyertaan Tuhan tidak selalu identik dengan kenyamanan, tetapi dengan pemeliharaan yang setia.
TUHAN BEKERJA DI BALIK PROSES, BUKAN HANYA DI AKHIR HASIL
Kita sering menginginkan Tuhan segera mengubah keadaan, tetapi Tuhan lebih sering terlebih dahulu mengubahkan hati kita.
Roma 8:28 menyatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Perhatikan: bukan hanya hal baik yang Ia pakai, tetapi “segala sesuatu”—termasuk proses yang sulit, tertunda, dan tidak kita mengerti.
Di sinilah iman bertumbuh: bukan ketika semua jelas, tetapi ketika kita tetap percaya meskipun belum semua jelas.
LEPASKAN KONTROL, BUKAN TANGGUNG JAWAB
Mengandalkan Tuhan bukan berarti menjadi pasif. Alkitab tidak mengajarkan sikap fatalisme, tetapi penyerahan yang aktif.
Amsal 3:5-6 mengajarkan untuk percaya kepada Tuhan dengan segenap hati, dan tidak bersandar pada pengertian sendiri. Ini berarti kita tetap berpikir, bertindak, dan bertanggung jawab—namun tidak menjadikan diri sendiri sebagai pusat kendali hidup.
Ada perbedaan antara:
- Mengandalkan Tuhan → hidup dalam hikmat dan ketergantungan kepada-Nya
- Menyerah pada keadaan → kehilangan pengharapan dan arah
Iman Kristen selalu mengarah pada pengharapan yang hidup, bukan keputusasaan.
ALLAH YANG SETIA MENYEMPURNAKAN PROSES
Mazmur 138:8 berkata bahwa Tuhan akan menyelesaikan pekerjaan tangan-Nya. Ini adalah dasar pengharapan orang percaya: Allah tidak meninggalkan apa yang Ia mulai.
Keselamatan, pertumbuhan rohani, dan pembentukan karakter adalah karya Allah yang berlangsung sepanjang hidup kita. Filipi 1:6 menegaskan bahwa Dia yang memulai pekerjaan yang baik akan menyelesaikannya sampai pada akhirnya.
PENUTUP: IMAN YANG DEWASA
Iman yang dewasa bukan iman yang hanya bersukacita saat semuanya berjalan baik, tetapi iman yang tetap percaya ketika jalan tidak mudah.
Tuhan tidak selalu mengubah situasi secepat yang kita mau, tetapi Ia selalu setia membentuk kita di dalam situasi itu.
Jadi hari ini, mungkin bukan pertanyaannya “mengapa Tuhan diam?”, tetapi: “Apa yang Tuhan sedang bentuk dalam diriku melalui proses ini?”
Sebab Allah yang kita sembah bukan Allah yang jauh, tetapi Allah yang bekerja, menyertai, dan menyempurnakan hidup kita di dalam Kristus Yesus.
Ps Welly Massie



