“Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri…” (Yunus 4:11)
Oleh: Ps. Welly Massie
Kemerdekaan adalah anugerah yang mahal.
Bangsa Indonesia tidak memperolehnya dengan mudah. Kemerdekaan lahir dari pengorbanan, perjuangan, air mata, bahkan darah para pahlawan yang rela menyerahkan hidup demi masa depan bangsanya.
Karena itu kemerdekaan seharusnya menjadi sarana untuk membangun peradaban yang lebih baik, bukan alasan untuk hidup tanpa batas dan tanpa tanggung jawab.
Namun pertanyaan yang perlu kita renungkan hari ini adalah:
Apakah kita benar-benar memahami arti kemerdekaan?
Banyak orang menganggap merdeka berarti bebas melakukan apa saja.
Bebas berkata apa saja.
Bebas menyerang siapa saja.
Bebas menyebarkan apa saja.
Padahal kebebasan yang tidak disertai hikmat dapat berubah menjadi kekacauan.
Kebebasan yang tidak dibimbing oleh tanggung jawab dapat berubah menjadi penghancur kehidupan bersama.
Niniwe dan Krisis Moral Sebuah Bangsa
Ketika Tuhan berbicara tentang Niniwe melalui Nabi Yunus, Tuhan menggambarkan sebuah masyarakat yang “tidak dapat membedakan tangan kanan dan tangan kiri.”
Ungkapan ini bukan berbicara tentang kemampuan fisik, melainkan tentang ketidakdewasaan moral dan rohani.
Mereka kehilangan kemampuan membedakan:
- yang benar dan yang salah,
- yang membangun dan yang merusak,
- yang bijaksana dan yang bodoh.
Ironisnya, kondisi seperti ini bisa terjadi pada bangsa mana pun, termasuk bangsa yang maju, berpendidikan, dan demokratis.
Sebab masalah terbesar suatu bangsa bukan kurangnya teknologi.
Masalah terbesar suatu bangsa adalah ketika kehilangan hikmat dan moralitas.
Kebebasan Tanpa Kendali
Kita hidup di era ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kebenaran.
Satu berita palsu dapat menyebar ke jutaan orang dalam hitungan menit.
Satu provokasi dapat memecah belah persaudaraan.
Satu fitnah dapat menghancurkan reputasi seseorang.
Media sosial yang seharusnya menjadi alat komunikasi sering berubah menjadi arena caci maki, penghinaan, dan pertengkaran tanpa akhir.
Semua orang ingin berbicara.
Tetapi tidak semua orang mau mendengar.
Semua orang ingin didengar.
Tetapi tidak semua orang mau memahami.
Di sinilah letak bahayanya.
Ketika kebebasan kehilangan etika, yang lahir bukan demokrasi yang sehat, melainkan kekacauan sosial.
Kemerdekaan Memerlukan Karakter
Alkitab mengajarkan bahwa kebebasan sejati bukan berarti hidup tanpa aturan.
Rasul Paulus berkata:
“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa.” (Galatia 5:13)
Artinya, kemerdekaan harus berjalan bersama tanggung jawab.
Orang yang dewasa tidak menggunakan kebebasannya untuk melukai orang lain.
Orang yang dewasa menggunakan kebebasannya untuk membangun, melayani, dan membawa kebaikan.
Demikian pula sebuah bangsa.
Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas tanpa batas.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menggunakan kebebasannya dengan bijaksana.
Doa Untuk Bangsa
Sebagai orang percaya, tugas kita bukan hanya mengkritik keadaan.
Kita dipanggil untuk berdoa bagi bangsa dan para pemimpin.
Kita perlu meminta agar Tuhan memberikan:
- hikmat kepada para pemimpin,
- keberanian untuk menegakkan keadilan,
- integritas dalam pemerintahan,
- dan kerendahan hati bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sebab perubahan sejati tidak hanya dimulai dari istana negara.
Perubahan sejati dimulai dari hati manusia yang takut akan Tuhan.
Kesimpulan
Kemerdekaan adalah berkat.
Tetapi tanpa hikmat, kemerdekaan dapat kehilangan arah.
Tanpa karakter, kebebasan dapat berubah menjadi kekacauan.
Tanpa rasa takut akan Tuhan, bangsa yang besar sekalipun dapat kehilangan fondasi moralnya.
Karena itu marilah kita menjadi warga negara yang bertanggung jawab, pembawa damai, dan pelaku Firman Tuhan.
Jangan hanya memperjuangkan hak.
Belajarlah juga menjalankan tanggung jawab.
Jangan hanya menuntut perubahan dari orang lain.
Mulailah menjadi perubahan itu sendiri.
Sebab bangsa yang kuat dibangun oleh rakyat yang memiliki hati yang benar di hadapan Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati Indonesia. Amin.
Penulis: Ps. Welly Massie



