Spread the lovePenataan Juanda-Pasar Baru Jadi Ujian Ketegasan Pemkot Bekasi: Mampukah Bertahan atau Kembali Semrawut? BEKASI – Penataan kawasan Jalan Ir. H. Juanda dan Pasar Baru Bekasi kembali menjadi perhatian publik. Setelah puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan tersibuk sekaligus kawasan yang identik dengan kemacetan, trotoar yang dipenuhi lapak, serta saluran air yang kerap bermasalah, Pemerintah Kota Bekasi kini mengambil langkah besar untuk mengubah wajah kawasan tersebut. Relokasi pedagang kaki lima ke dalam area pasar menjadi langkah awal yang dilakukan pemerintah. Kebijakan ini bukan hanya soal memindahkan lokasi berjualan, tetapi juga menyangkut upaya mengembalikan fungsi trotoar bagi pejalan kaki dan fungsi jalan sebagai sarana lalu lintas yang aman dan nyaman. Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan bahwa kawasan Juanda membutuhkan perubahan yang selama ini dinantikan masyarakat. Menurutnya, kondisi yang hampir tidak berubah selama lebih dari dua dekade menunjukkan perlunya keberanian pemerintah dalam mengambil langkah penataan yang lebih serius. Namun bagi sebagian warga, tantangan terbesar bukan terletak pada proses relokasi, melainkan bagaimana menjaga hasil penataan tersebut agar tidak kembali ke kondisi semula. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa penertiban sering kali berhasil pada tahap awal, tetapi perlahan kembali longgar sehingga trotoar dan badan jalan kembali dipenuhi aktivitas perdagangan. Karena itu, keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi pengawasan dan komitmen seluruh pihak, baik pemerintah, pengelola pasar, maupun para pedagang. Penataan yang berkelanjutan membutuhkan kesadaran bersama bahwa ruang publik merupakan hak seluruh warga, bukan hanya kelompok tertentu. Selain relokasi pedagang, Pemkot Bekasi juga melakukan pembenahan infrastruktur pendukung. Drainase yang selama ini menjadi sumber genangan mulai diperbaiki, sistem saluran air ditingkatkan, penerangan kawasan diperkuat, dan trotoar akan dibangun ulang agar lebih ramah bagi pejalan kaki. Langkah tersebut dinilai penting mengingat kawasan Pasar Baru merupakan salah satu pusat ekonomi tradisional terbesar di Kota Bekasi. Dengan lingkungan yang lebih tertata, aktivitas perdagangan diharapkan tetap berkembang tanpa mengorbankan kenyamanan dan keselamatan masyarakat. Di sisi lain, penataan kawasan ini juga memiliki dimensi ekonomi. Pemerintah berharap wajah baru Pasar Baru dan Jalan Juanda dapat meningkatkan daya tarik kawasan sehingga jumlah pengunjung bertambah dan perputaran ekonomi lokal semakin kuat. Pedagang yang menempati lokasi resmi di dalam pasar juga diharapkan memperoleh lingkungan usaha yang lebih aman dan tertata. Meski demikian, masyarakat akan menilai keberhasilan program ini bukan dari proses relokasi semata, melainkan dari hasil yang dapat dirasakan dalam jangka panjang. Apakah trotoar benar-benar kembali menjadi ruang pejalan kaki? Apakah kemacetan berkurang? Apakah kawasan menjadi lebih bersih dan nyaman? Pertanyaan-pertanyaan tersebut kini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kota Bekasi. Sebab penataan kota yang berhasil bukan hanya tentang membangun atau memindahkan, melainkan tentang menjaga perubahan agar tetap bertahan. Jika konsisten dijalankan, penataan Juanda dan Pasar Baru dapat menjadi contoh keberhasilan transformasi ruang publik di Kota Bekasi. Namun jika pengawasan melemah, bukan tidak mungkin kawasan tersebut kembali menghadapi persoalan lama yang selama puluhan tahun belum terselesaikan. (Romo Kefas) Post Views: 4 Navigasi pos Kota Bekasi Tuntaskan Sensus Penduduk Tercepat di Jabar, Wali Kota Dorong Suksesnya Sensus Ekonomi 2026 Pemkot Bekasi Hadapi Tantangan Besar Penataan Pasar Baru, Kepentingan Publik Jadi Prioritas