Spread the love

Kabut Asap dan Aktivitas Krakatau Jadi Teguran Keras” Habib Muchdar Assegaf : Ajak Bangsa Mawas Diri!

JAKARTA — Bencana kabut asap dan aktivitas vulkanik Gunung Krakatau dinilai menjadi momentum penting bagi seluruh elemen bangsa untuk melakukan introspeksi dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana yang terus mengintai Indonesia.

Pandangan tersebut disampaikan Pemerhati Publik & Kebijakan Hukum” Habib Muchdar Assegaf, yang menilai berbagai peristiwa geologis dan ekologis yang terjadi harus menjadi bahan evaluasi bersama, bukan sekadar dipandang sebagai fenomena alam yang datang dan berlalu.

“Bencana kabut asap dan letusan Gunung Krakatau merupakan sebuah teguran keras bagi alam bawah sadar kita, sekaligus momentum mendalam bagi seluruh elemen bangsa untuk mawas diri,” ujar Habib Muchdar Assegaf.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang berada di kawasan Ring of Fire sehingga masyarakat dan pemerintah tidak boleh memiliki cara pandang bahwa bencana merupakan sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kendali manusia.

“Peristiwa geologis dan ekologis yang terjadi secara bersamaan ini tidak boleh hanya dilihat sebagai fenomena alam biasa,melainkan sebagai cermin besar bagi kesiapan, spiritualitas dan gaya hidup kita sebagai bangsa,” tegasnya.

Habib Muchdar menekankan bahwa kesiapsiagaan bencana harus dibangun secara menyeluruh, adapun Pemerintah, aparat, dunia usaha, akademisi, komunitas lingkungan hingga masyarakat harus memiliki kesadaran bahwa mitigasi bencana merupakan tanggung jawab bersama.

Di sisi lain, persoalan ekologis juga perlu mendapatkan perhatian serius, kerusakan lingkungan, pengelolaan hutan dan lahan yang tidak berkelanjutan serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian alam dinilai perlu menjadi bahan evaluasi.

“Jangan sampai kita baru bergerak ketika bencana sudah terjadi, kesadaran terhadap lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana harus menjadi budaya, bukan sekadar respons sesaat ketika keadaan sudah darurat,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk melihat setiap bencana sebagai pengingat agar manusia lebih menghormati keseimbangan alam, dimana menurutnya, pembangunan bangsa.

Namun tidak cukup hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga melalui kemampuan menjaga lingkungan melindungi masyarakat serta membangun karakter yang memiliki kepedulian terhadap alam dan sesama.

“Indonesia hidup berdampingan dengan kekuatan alam yang luar biasa. Karena itu, kita harus belajar rendah hati, alam bukan sesuatu yang bisa terus-menerus dieksploitasi tanpa konsekuensi,” pungkasnya.

Selanjutnya Habib Muchdar berharap momentum tersebut dapat mendorong lahirnya kebijakan yang lebih serius dalam mitigasi bencana, perlindungan lingkungan serta peningkatan edukasi kebencanaan kepada masyarakat” Tutupnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *