Spread the love

Habib Muchdar Assegaf Soroti Krisis Kabut Asap di Kalsel” minta Karhutla Jangan Jadi Drama Berulang!

 

Banjarmasin — Dewan Kehormatan Lembaga Adat Dayak (DAD) Kalsel menyampaikan” Krisis kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) kembali menjadi perhatian. Memasuki awal September 2026, kondisi tersebut dinilai semakin mengkhawatirkan seiring meningkatnya ancaman kebakaran di sejumlah wilayah.

 

Habib Muchdar Assegaf juga sebagai Pengamat Lingkungan menilai” Persoalan karhutla di Kalsel bukan sekadar persoalan munculnya titik api pada musim kemarau, dimana menurutnya, kejadian yang terus berulang menunjukkan masih adanya persoalan sistemis dalam pengelolaan dan perlindungan ekosistem khususnya kawasan tanah gambut.

Habib Muchdar menyebut kondisi tersebut sebagai “drama berulang”, karena persoalan kabut asap kembali terjadi ketika kondisi lingkungan memasuki periode yang rentan terhadap kebakaran “Karhutla dan kabut asap jangan hanya dilihat sebagai persoalan ketika api sudah muncul. Kita harus melihat akar masalahnya, termasuk bagaimana tanah gambut dikelola dan bagaimana sistem tata airnya dijaga,” ujarnya.

Ia menyoroti keberadaan drainase dan kanal yang dinilai dapat menyebabkan muka air di kawasan gambut turun sehingga bentang alam menjadi lebih kering, dimana dalam kondisi kemarau gambut yang kehilangan kelembapan yang dinilai menjadi jauh lebih rentan terbakar dan kebakaran dapat sulit dikendalikan.

Menurutnya, upaya penanganan karhutla harus dilakukan secara lebih komprehensif adapun Pemerintah juga seluruh pemangku kepentingan perlu memperkuat langkah pencegahan dan bukan hanya mengandalkan pemadaman setelah kebakaran terjadi.

Habib Muchdar juga mendorong evaluasi terhadap tata kelola kawasan gambut, termasuk sistem kanal dan drainase yang berpotensi memengaruhi keseimbangan tata air juga perlindungan gambut, menurutnya, harus menjadi bagian penting dari strategi pencegahan karhutla jangka panjang.

“Kalau akar persoalannya tidak dibenahi maka setiap musim kemarau kita akan kembali menghadapi persoalan yang sama dan tentunya hal Ini harus dihentikan, selain itu perlindungan gambut dan pengelolaan tata air harus menjadi prioritas,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah daerah, pemerintah pusat, aparat penegak hukum, dunia usaha masyarakat adat, serta masyarakat setempat dapat memperkuat sinergi dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan.

Habib Muchdar menegaskan bahwa persoalan kabut asap bukan hanya menyangkut lingkungan tetapi juga berhubungan dengan kualitas udara, kesehatan masyarakat terhadap aktivitas ekonomi serta keberlangsungan ekosistem.

Karena itu, ia meminta penanganan karhutla di Kalsel dilakukan secara serius, terukur dan berkelanjutan agar bencana kabut asap tidak terus menjadi “drama berulang” setiap musim kemarau” Tegasnya.

*Sumber : Habib Muchdar Assegaf*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *