Spread the love

 

TANGERANG, — Turnamen Link Viber Cup 2026 yang mempertemukan 32 tim kesebelasan di Stadion Mini Pangeran Jaga Lautan, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, berlangsung meriah. Namun, di balik antusiasme masyarakat terhadap kompetisi tersebut, sejumlah aspek penyelenggaraan mulai menjadi sorotan publik.

Sorotan itu tidak berkaitan dengan jalannya pertandingan, melainkan menyangkut pengelolaan kegiatan, mulai dari tiket penonton, biaya pendaftaran tim, lapak pelaku UMKM, sponsor hingga informasi mengenai biaya publikasi bagi media.

Berdasarkan informasi dan penelusuran di lapangan, tiket masuk pertandingan disebut dipatok sekitar Rp5.000. Sementara 32 tim peserta masing-masing dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp1 juta.

Di sekitar stadion juga terdapat sejumlah lapak UMKM. Berdasarkan informasi yang dihimpun, biaya untuk stan disebut berkisar Rp300 ribu hingga Rp700 ribu, tergantung lokasi dan ketentuan yang berlaku.

Besaran sejumlah pungutan atau biaya tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana mekanisme pengelolaannya, terlebih pertandingan digelar di Stadion Mini Pangeran Jaga Lautan yang merupakan fasilitas olahraga milik pemerintah daerah.

Publik tentu berkepentingan mengetahui dasar pemanfaatan fasilitas tersebut, termasuk aspek perizinan, mekanisme penggunaan aset daerah, kontribusi atau retribusi apabila ada, serta transparansi pengelolaan kegiatan.

Di sisi lain, Ketua Panitia Link Viber Cup 2026, Triesno Sergio, menyampaikan bahwa penyelenggara telah menyiapkan hadiah bagi para juara dengan nilai cukup besar.

Juara pertama akan memperoleh hadiah Rp35 juta, juara kedua Rp20 juta, sedangkan juara ketiga dan keempat masing-masing mendapatkan Rp10 juta.

Untuk pertandingan babak semifinal, harga tiket disebut akan mengalami kenaikan menjadi Rp15 ribu. Turnamen sendiri dijadwalkan berlangsung selama 31 hari hingga seluruh rangkaian pertandingan selesai.

Kegiatan tersebut juga disebut mendapat dukungan dari 23 sponsor. Dengan adanya biaya pendaftaran tim, tiket penonton, aktivitas UMKM dan dukungan sponsor, skema pendanaan turnamen menjadi salah satu hal yang dinilai perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik.

Apalagi, sebelumnya dalam penyelenggaraan Linda Cup 2025, beredar informasi mengenai keuntungan yang disebut mencapai sekitar Rp250 juta.

Kini, dengan jumlah peserta sebanyak 32 tim, durasi pertandingan hingga 31 hari serta dukungan puluhan sponsor, muncul pertanyaan mengenai berapa besar perputaran dana dalam Link Viber Cup 2026 dan bagaimana pengelolaannya.

Namun, angka-angka tersebut masih perlu dikonfirmasi secara resmi kepada panitia penyelenggara maupun pihak terkait agar tidak menimbulkan kesimpulan sepihak.

Biaya Publikasi Media Ikut Dipertanyakan

Sorotan lain datang dari kalangan media. Informasi mengenai adanya biaya publikasi dalam setiap penerbitan berita terkait Link Viber Cup 2026 turut menjadi perbincangan.

SS, salah seorang pengurus Kronjo Media Center (KMC), membenarkan adanya informasi bahwa publikasi terkait kegiatan tersebut dihargai sekitar Rp22 ribu untuk setiap penerbitan atau peliputan yang dilakukan oleh media yang hadir di lokasi,” ucapnya

Menurutnya, persoalan tersebut kemudian menimbulkan pro dan kontra di kalangan media.

“Informasi mengenai biaya publikasi tersebut telah menimbulkan pro dan kontra di kalangan media maupun masyarakat,” ujarnya.

Persoalan tersebut bukan hanya menyangkut nominal Rp22 ribu, melainkan lebih kepada kejelasan mengenai siapa yang menetapkan biaya tersebut, apa dasar kebijakannya dan apakah mekanisme tersebut merupakan keputusan resmi panitia Link Viber Cup 2026.

Jika memang terdapat ketentuan pembayaran atau kompensasi dalam kegiatan publikasi, transparansi menjadi penting agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat maupun kalangan pers.

Libatkan Banyak Unsur, Transparansi Dinilai Penting

Selain aspek pembiayaan, pengamanan pertandingan juga menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan turnamen.

Selama pertandingan berlangsung, unsur keamanan dari tingkat Polsek, Polres, TNI, Satpol PP hingga PMI disebut turut terlibat untuk menjaga keamanan dan memastikan pertandingan berjalan kondusif.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai pola koordinasi antara panitia dengan pihak keamanan serta bagaimana dukungan terhadap kegiatan tersebut diatur.

Di sisi lain, keberadaan sponsor, pelaku UMKM, tim peserta, penonton dan media menunjukkan bahwa Link Viber Cup 2026 bukan hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi pertandingan.

Karena itu, semakin besar skala sebuah kegiatan, semakin penting pula keterbukaan mengenai mekanisme penyelenggaraannya.

Masyarakat pada dasarnya menyambut positif terselenggaranya kompetisi sepak bola yang mampu menggerakkan antusiasme warga dan memberikan ruang bagi para pemain lokal untuk berkompetisi.

Namun, kemeriahan pertandingan seyogianya berjalan beriringan dengan transparansi dan akuntabilitas, terutama ketika kegiatan memanfaatkan fasilitas olahraga milik pemerintah daerah dan melibatkan berbagai aktivitas ekonomi.

Publik tidak sedang mempersoalkan sepak bolanya. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana seluruh rangkaian Link Viber Cup 2026 dikelola, apakah seluruh mekanismenya memiliki dasar yang jelas, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Hingga berita ini diturunkan, konfirmasi lebih lanjut dari pihak pengelola Stadion Mini Pangeran Jaga Lautan dan instansi pemerintah daerah terkait mengenai mekanisme pemanfaatan fasilitas serta pengelolaan kegiatan masih diperlukan untuk memberikan gambaran yang utuh kepada publik.(..)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *