KAUM BUMI DATAR: KETIKA MANUSIA LEBIH MENCINTAI KEYAKINAN DARIPADA KEBENARAN
Bahaya Fanatisme, Hoaks, dan Iman Tanpa Hikmat
Oleh: Ps. Welly Massie
“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”
— 1 Tesalonika 5:21
Christopher Columbus berani berlayar ke arah barat karena ia percaya bumi itu bulat. Bahkan jauh sebelum ada satelit, drone, dan foto dari luar angkasa, manusia sebenarnya sudah bisa melihat bukti bahwa bumi tidak datar:
- dari pelayaran,
- horizon,
- bayangan matahari,
- hingga navigasi bintang.
Namun ironisnya, di zaman internet tercepat dalam sejarah manusia, justru semakin banyak orang percaya hal-hal paling absurd.
Mengapa?
Bukan karena kurang informasi.
Tetapi karena manusia mulai kehilangan kemampuan berpikir kritis.
Dan Alkitab ternyata sudah lama menyinggung masalah ini:
“Lebih baik bertemu dengan beruang yang kehilangan anak daripada dengan orang bebal dalam kebodohannya.”
— Amsal 17:12
Masalah terbesar orang bebal bukan karena ia tidak tahu.
Masalahnya: ia tidak mau tahu.
Ketika Keyakinan Lebih Penting daripada Kebenaran
Dalam sejarah, bahkan lembaga agama pernah jatuh dalam kesalahan serupa.
Ketika Nicolaus Copernicus mengemukakan bahwa bumi mengelilingi matahari, teorinya dianggap berbahaya karena bertentangan dengan pandangan umum dan tafsir agama saat itu.
Galileo Galilei pun mengalami tekanan dan pengadilan karena mendukung fakta ilmiah tersebut.
Ironis bukan?
Kadang manusia lebih rela mempertahankan keyakinannya daripada mencari kebenaran.
Dan pola ini masih terus terjadi sampai sekarang.
“Kaum Bumi Datar” Modern
Hari ini istilah “kaum bumi datar” bukan hanya tentang percaya bumi datar.
Istilah itu sudah menjadi simbol untuk orang-orang yang:
- anti dikoreksi,
- gampang termakan hoaks,
- fanatik tanpa nalar,
- merasa paling benar,
- dan alergi terhadap fakta.
Mereka tidak lagi mencari kebenaran.
Mereka hanya mencari informasi yang mendukung keyakinannya sendiri.
Padahal semakin seseorang menolak dikoreksi, semakin mudah ia dimanipulasi.
Spiritualitas Tanpa Nalar
Fenomena ini juga muncul dalam dunia rohani.
Banyak manipulasi dibungkus dengan:
- bahasa rohani,
- testimoni emosional,
- janji mujizat,
- dan harapan instan.
Mulai dari:
- investasi bodong berkedok iman,
- penggandaan uang,
- “berkat instan,”
- sampai sistem yang sebenarnya hanya memanfaatkan keserakahan manusia.
Lucunya, kadang orang yang terdidik pun bisa tertipu.
Karena gelar tinggi tidak otomatis membuat seseorang memiliki hikmat.
Kalau hati manusia dikuasai:
- ketakutan,
- keserakahan,
- atau keinginan mendapatkan jalan pintas,
akal sehat bisa mati.
Kultus Figur di Gereja
Fenomena lain yang berbahaya adalah ketika jemaat terlalu mengidolakan seorang pemimpin rohani.
Semua perkataannya dianggap pasti suara Tuhan.
Jemaat tidak lagi:
- menguji,
- berpikir sehat,
- atau berani bertanya.
Akhirnya yang lahir bukan iman yang dewasa…
tetapi ketergantungan kepada figur manusia.
Dan ketika seorang pemimpin terlalu dipuja, manipulasi menjadi sangat mudah terjadi.
Inilah yang sering disebut sebagai:
“sihir dalam gereja.”
Bukan karena mantra atau ilmu hitam…
tetapi karena pengaruh psikologis dan spiritual yang membuat orang kehilangan kejernihan berpikir.
Orang dibuat:
- kagum,
- takut,
- dan takluk,
sampai tidak mampu lagi membedakan antara hormat kepada Tuhan dan kultus kepada manusia.
Padahal Alkitab tidak pernah melarang orang berpikir kritis.
Justru firman Tuhan berkata:
“Ujilah segala sesuatu…”
Artinya iman Kristen tidak dibangun di atas kebodohan.
Bahaya Media Sosial
Di era digital, kebodohan sering tampil sangat menarik.
Ia datang dalam bentuk:
- video viral,
- teori konspirasi,
- potongan konten,
- motivasi palsu,
- bahkan “wahyu rohani.”
Masalahnya: yang viral belum tentu benar.
Yang paling percaya diri belum tentu paling mengerti.
Dan algoritma media sosial sering membuat manusia hanya mendengar apa yang ingin ia dengar.
Akhirnya manusia hidup dalam “gelembung keyakinan” yang membuatnya semakin sulit menerima kebenaran.
Masalah Terbesar: Kesombongan Hati
Pada akhirnya, akar utama kebodohan bukan kurangnya IQ.
Tetapi kesombongan hati.
Ketika seseorang sudah merasa:
- paling tahu,
- paling benar,
- dan tidak mungkin salah,
di situlah pintu pembelajaran mulai tertutup.
Karena orang yang rendah hati masih bisa berkata:
“Mungkin saya salah.”
Dan justru itulah awal dari hikmat.
Kesimpulan
“Kaum bumi datar” sebenarnya bisa muncul di mana saja:
- di politik,
- agama,
- bisnis,
- media sosial,
- bahkan di gereja.
Dan kalau jujur… kadang kita pun bisa seperti itu.
Lebih suka mencari pembenaran daripada kebenaran.
Lebih nyaman mendengar apa yang cocok dengan ego daripada menerima teguran yang menyakitkan.
Karena itu sebelum menertawakan orang lain, kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
- Apakah saya masih mau diajar?
- Masih bisa dikoreksi?
- Masih sanggup menerima kebenaran meski itu menampar ego saya?
Sebab ketika manusia kehilangan kerendahan hati untuk belajar…
di situlah kebodohan mulai naik takhta.
Tuhan Yesus yang penuh kasih dan kebenaran memberkati kita semua. Amin



