Ketika Dosa Dianggap Normal
Mengapa Perintah “Jangan Berzinah” Masih Sangat Relevan Hari Ini
Oleh: Ps. Welly Massie
“Jangan berzinah.”
— Keluaran 20:14
Hanya dua kata.
Singkat. Tegas. Tanpa kompromi.
Menariknya, perintah ini secara resmi baru diberikan pada zaman Musa ketika bangsa Israel keluar dari Mesir. Lalu muncul pertanyaan penting: apakah sebelum Hukum Taurat diberikan Allah belum peduli tentang perzinahan?
Tentu bukan demikian.
Jauh sebelum Sepuluh Perintah Allah ditulis di atas loh batu, Yusuf sudah memahami bahwa tidur dengan istri Potifar adalah dosa.
Ia berkata:
“Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”
— Kejadian 39:9
Perhatikan baik-baik perkataan Yusuf.
Ia tidak berkata:
“Nanti aku dihukum.”
Ia berkata:
“Aku berdosa terhadap Allah.”
Inilah tanda hati nurani yang masih hidup.
Yusuf tidak membutuhkan hukum tertulis untuk tahu bahwa sesuatu itu salah. Mengapa? Karena hatinya masih takut akan Tuhan dan belum rusak oleh budaya di sekelilingnya.
Lalu mengapa Allah tetap perlu berkata:
“Jangan berzinah”?
Karena bangsa Israel sudah terlalu lama hidup di Mesir.
Ratusan tahun mereka hidup di tengah budaya yang rusak. Sedikit demi sedikit cara berpikir Mesir mulai memengaruhi hati mereka.
Dan ketika dosa mulai dianggap biasa, firman Tuhan harus ditegaskan kembali.
Bukankah dunia hari ini juga sedang bergerak ke arah yang sama?
Sekarang:
- perselingkuhan dijadikan hiburan
- pornografi dianggap normal
- ketidaksetiaan dianggap hak pribadi
- bahkan dosa sering dibungkus dengan kata “kebebasan”
Orang tidak lagi bertanya:
“Apakah ini benar di hadapan Tuhan?”
Tetapi:
“Apakah ini membuat aku bahagia?”
Inilah bahaya terbesar budaya modern: ketika perasaan mulai menggantikan kebenaran.
Firman Tuhan akhirnya dianggap keras karena dunia sudah terlalu lama hidup dalam kompromi.
Padahal sebenarnya firman Tuhan bukan sedang membatasi manusia, melainkan melindungi manusia.
Perintah:
“Jangan berzinah”
bukan dibuat untuk merusak kebahagiaan manusia, tetapi untuk menjaga manusia agar tidak menghancurkan dirinya sendiri.
Karena dosa seksual tidak pernah berhenti pada kenikmatan sesaat. Ia menghancurkan:
- kepercayaan
- keluarga
- hati nurani
- bahkan kehidupan rohani seseorang
Masalah terbesar manusia bukan karena tidak tahu firman Tuhan.
Masalah terbesar manusia adalah ketika terlalu lama hidup dalam budaya yang salah sampai dosa terasa normal.
Dan ketika hati mulai terbiasa dengan dosa, perlahan-lahan hati menjadi mati rasa.
Itulah sebabnya orang bisa:
- berbuat salah tanpa rasa bersalah
- menyakiti tanpa penyesalan
- hidup dalam dosa tanpa takut kepada Tuhan
Ini berbahaya.
Karena ketika dosa tidak lagi terasa salah, itu tanda hati sedang kehilangan kepekaan rohani.
Yusuf memberi teladan yang sangat berbeda.
Ia takut kepada Tuhan bahkan ketika:
- tidak ada yang melihat
- tidak ada hukum tertulis
- dan ada kesempatan untuk berbuat dosa
Mengapa?
Karena integritas sejati tidak ditentukan oleh pengawasan manusia, tetapi oleh kesadaran bahwa Tuhan melihat segala sesuatu.
Refleksi Pribadi
- Apakah hati nurani kita masih peka terhadap dosa?
- Ataukah kita mulai menganggap dosa biasa karena semua orang melakukannya?
- Apakah hidup kita lebih dibentuk oleh firman Tuhan atau oleh budaya dunia?
Kesimpulan
Dosa tidak berubah hanya karena budaya berubah.
Apa yang dianggap normal oleh dunia belum tentu benar di mata Tuhan.
Karena itu jangan biarkan dunia mematikan hati nurani kita.
Tetaplah memiliki hati seperti Yusuf: takut akan Tuhan bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Sebab orang yang masih peka terhadap dosa adalah orang yang rohaninya masih hidup.
GBU all, Amin



