Romo Kefas: Indonesia Jangan Sampai Kehilangan Wajah Kemanusiaannya
YOGYAKARTA — Di tengah berbagai dinamika sosial yang terus berkembang di ruang publik, bangsa Indonesia dinilai sedang menghadapi tantangan besar dalam menjaga nilai toleransi, kedewasaan berpikir, dan rasa hormat terhadap sesama warga negara. Ketika perbedaan mulai dipertentangkan dan ruang sosial dipenuhi prasangka, maka yang terancam bukan hanya kerukunan masyarakat, tetapi juga wajah kemanusiaan bangsa itu sendiri.
Jurnalis PEWARNA Indonesia sekaligus salah satu Founder LKBH PEWARNA Indonesia dan penggiat budaya, Kefas Hervin Devananda atau yang akrab disapa Romo Kefas, menegaskan bahwa Indonesia dibangun bukan atas dasar keseragaman, melainkan kemampuan hidup bersama di tengah keberagaman.
Saat dihubungi melalui saluran WhatsApp oleh tim media, Romo Kefas mengatakan bahwa masyarakat harus mulai menyadari bahaya ketika fanatisme kelompok, tekanan sosial, dan narasi kebencian dibiarkan tumbuh tanpa kendali di ruang publik.
“Indonesia jangan sampai kehilangan wajah kemanusiaannya hanya karena masyarakat mulai terbiasa saling membenci dan menghakimi atas nama perbedaan,” ujar Romo Kefas, Selasa (26/5).
Menurutnya, persoalan sosial maupun keagamaan yang muncul di tengah masyarakat tidak boleh diselesaikan dengan emosi, tekanan massa, ataupun penghakiman sepihak yang dapat memperbesar luka sosial.
“Kalau setiap persoalan diselesaikan dengan kemarahan dan tekanan kelompok, maka yang hilang pertama kali adalah rasa aman masyarakat. Setelah itu, perlahan kepercayaan terhadap hukum dan persatuan bangsa juga akan ikut runtuh,” katanya.
Romo Kefas menilai kondisi masyarakat hari ini semakin rentan dipengaruhi opini digital yang sering kali dibangun dari potongan video, narasi emosional, dan informasi yang belum tentu utuh kebenarannya.
“Kita hidup di era ketika informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kebijaksanaan. Banyak orang langsung bereaksi sebelum memahami persoalan secara menyeluruh,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia memiliki fondasi kuat berupa Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, serta budaya luhur Nusantara yang mengajarkan hidup berdampingan dalam keberagaman.
“Para pendiri bangsa ini memberi contoh bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan. Mereka justru membangun Indonesia dengan semangat persaudaraan dan penghormatan terhadap sesama,” tegasnya.
Sebagai penggiat budaya, Romo Kefas menilai toleransi bukan sekadar slogan yang diucapkan saat seremoni, melainkan sikap hidup yang harus dijaga dalam praktik kehidupan sehari-hari.
“Budaya Nusantara mengajarkan gotong royong, tenggang rasa, dan menghormati martabat manusia. Kalau nilai itu hilang, maka bangsa ini akan kehilangan jati dirinya,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa kebebasan menjalankan keyakinan merupakan hak konstitusional seluruh warga negara yang wajib dihormati bersama. Namun di sisi lain, seluruh masyarakat juga harus menjunjung aturan hukum dan menjaga ketertiban sosial demi kepentingan bersama.
“Kebebasan harus berjalan berdampingan dengan tanggung jawab sosial. Negara juga harus hadir secara adil agar tidak ada masyarakat yang merasa ditinggalkan ataupun diperlakukan berbeda,” katanya.
Romo Kefas turut mengapresiasi langkah aparat keamanan dan pemerintah daerah yang memilih jalur komunikasi serta mediasi dalam menjaga kondusivitas di tengah dinamika sosial yang berkembang.
Menurutnya, pendekatan dialog jauh lebih penting dibanding memperbesar ketegangan yang hanya akan meninggalkan luka dan memperlemah persatuan masyarakat.
Di akhir keterangannya, Romo Kefas mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali merawat ruang persaudaraan dan tidak membiarkan Indonesia terpecah oleh kebencian maupun ego kelompok.
“Perbedaan itu pasti ada dan tidak mungkin dihapus. Tetapi rasa hormat terhadap sesama adalah pilihan yang harus dijaga. Karena bangsa ini hanya akan tetap kuat jika rakyatnya masih memiliki hati untuk saling menghargai,” tutupnya.



