Rayakan Hari Lahir Pancasila dengan Aksi Nyata, Puspita Dorong Budaya Pilah Sampah dari Rumah di Cilincing
Jakarta Utara – Di tengah peringatan Hari Lahir Pancasila yang identik dengan upacara dan seremoni kebangsaan, Komunitas Puspita memilih merayakannya dengan cara yang lebih membumi. Pada 1 Juni 2026, komunitas yang beranggotakan para fanbase dan pemerhati Selvi Ananda Gibran tersebut menggelar kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Pilah Sampah dari Rumah di Bank Sampah Sejahtera RW 03, Cilincing, Jakarta Utara.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana edukasi lingkungan, tetapi juga menjadi ajakan kepada masyarakat untuk menghidupkan nilai-nilai Pancasila melalui tindakan sederhana yang berdampak langsung bagi kehidupan sehari-hari.
Di kawasan padat penduduk seperti Cilincing, persoalan sampah masih menjadi tantangan yang terus dihadapi warga. Tumpukan sampah rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik kerap menimbulkan persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran hingga gangguan kesehatan masyarakat.
Melihat kondisi tersebut, Komunitas Puspita hadir dengan pendekatan yang sederhana namun efektif, yakni mengajak masyarakat memulai perubahan dari rumah masing-masing melalui kebiasaan memilah sampah.
Ketua Umum Puspita, Ade Rukmini Triastuti, menegaskan bahwa semangat Hari Lahir Pancasila harus diwujudkan dalam aksi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Menjaga lingkungan adalah bentuk tanggung jawab bersama. Ketika masyarakat mau memilah sampah dari rumah, sesungguhnya mereka sedang menjalankan nilai gotong royong, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap masa depan lingkungan,” ujarnya.
Menurut Ade, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah atau petugas kebersihan. Kesadaran masyarakat menjadi faktor utama dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman.
Salah satu hal yang menarik perhatian peserta adalah konsep bahwa sampah tidak selalu berakhir menjadi limbah. Melalui pengelolaan yang tepat, sampah dapat menjadi sumber nilai ekonomi yang membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Pengelola Bank Sampah Sejahtera RW 03, Juju, menjelaskan bahwa warga yang rutin memilah dan menyetorkan sampah dapat memperoleh manfaat finansial yang cukup membantu kebutuhan sehari-hari.
“Sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata bisa menjadi tabungan keluarga. Hasilnya bisa digunakan untuk membantu biaya pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, bahkan ditukar dengan sembako,” jelasnya.
Program berbasis pemberdayaan masyarakat ini dinilai mampu menciptakan dua manfaat sekaligus, yakni mengurangi volume sampah yang mencemari lingkungan serta memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga.
Sementara itu, Sekretaris Umum Puspita, Anin Amasia, mengungkapkan bahwa peserta yang hadir menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung. Banyak anggota yang tertarik untuk menerapkan sistem pemilahan sampah di rumah dan mengajak lingkungan sekitarnya melakukan hal serupa.
“Respons peserta sangat positif. Mereka melihat bahwa program ini mudah dilakukan dan manfaatnya bisa langsung dirasakan. Ini menjadi langkah awal yang baik untuk membangun budaya peduli lingkungan dari tingkat keluarga,” katanya.
Bagi Komunitas Puspita, peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa cinta tanah air tidak selalu diwujudkan dalam kata-kata besar. Kadang-kadang, bentuk pengabdian kepada bangsa dapat dimulai dari tindakan sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi sampah, dan membangun kesadaran bersama untuk hidup lebih bertanggung jawab.
Melalui kegiatan ini, Puspita berharap lahir gerakan yang lebih luas di tengah masyarakat, bahwa pengelolaan sampah bukan lagi dianggap sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan produktif.
Karena pada akhirnya, Indonesia yang bersih dan maju tidak hanya dibangun oleh kebijakan besar, tetapi juga oleh jutaan tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakatnya.
“Saat sampah dipilah dengan benar, lingkungan terselamatkan. Saat masyarakat bergerak bersama, nilai-nilai Pancasila menemukan maknanya dalam kehidupan nyata.”



