Spread the loveMenanam Pancasila di Tanah Jatiprahu: Dari Bibit Pohon Menuju Warisan Kehidupan Trenggalek – Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 di Desa Jatiprahu, Kabupaten Trenggalek, berlangsung dengan cara yang berbeda. Tidak ada kemeriahan panggung atau seremoni berlebihan. Yang terlihat justru tangan-tangan yang sibuk menggenggam cangkul, mengangkat bibit pohon, dan menanam harapan di atas tanah yang selama ini membutuhkan sentuhan pemulihan. Media Online PersatuanBangsa.com bersama Pemuda Jatiprahu menginisiasi gerakan penanaman ribuan pohon di kawasan yang sebelumnya mengalami kerusakan tutupan vegetasi. Aksi tersebut menjadi bentuk nyata penerapan nilai-nilai Pancasila yang diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan generasi berikutnya. Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek, , yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang dibangun antara media, pemuda, dan masyarakat dalam mendukung agenda pelestarian lingkungan. Menurutnya, penanaman pohon bukan sekadar kegiatan simbolis tahunan, melainkan investasi jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan oleh masyarakat di masa mendatang. Salah satu jenis tanaman yang ditanam adalah sukun, yang memiliki nilai strategis sebagai sumber pangan alternatif sekaligus tanaman konservasi. “Ketahanan pangan tidak harus selalu bergantung pada satu komoditas. Sukun memiliki potensi besar sebagai sumber pangan pendamping yang bernilai gizi dan dapat dikembangkan oleh masyarakat,” ujarnya. Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap isu perubahan iklim, langkah yang dilakukan masyarakat Jatiprahu menjadi contoh bagaimana gerakan akar rumput mampu memberikan kontribusi nyata terhadap upaya menjaga keseimbangan lingkungan. Kegiatan ini juga sejalan dengan visi Kabupaten Trenggalek dalam mendukung program Net Zero Carbon. Melalui penanaman pohon produktif seperti alpukat, sukun, dan jeruk purut, masyarakat tidak hanya memperkuat fungsi ekologis kawasan, tetapi juga membuka peluang peningkatan ekonomi berbasis lingkungan. Yang menarik, kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana gotong royong yang kental. Tidak ada sekat antara pemuda, tokoh masyarakat, insan pers, maupun pemangku kebijakan. Semua melebur dalam satu tujuan yang sama: mengembalikan fungsi lahan sekaligus mewariskan lingkungan yang lebih baik. Di antara ribuan bibit yang ditanam, tersimpan harapan agar kawasan yang hari ini masih membutuhkan penghijauan kelak tumbuh menjadi ruang hidup yang teduh, produktif, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Peringatan Hari Lahir Pancasila kali ini pun mengajarkan satu hal penting: mencintai tanah air tidak selalu diwujudkan melalui kata-kata besar. Terkadang, cinta kepada bangsa justru tampak sederhana—menanam satu pohon, merawatnya dengan sabar, lalu membiarkannya tumbuh menjadi kehidupan bagi banyak orang. Ketika akar-akar pohon mulai menembus tanah Jatiprahu, sesungguhnya yang sedang ditanam bukan hanya bibit tanaman, melainkan juga semangat persatuan, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap masa depan Indonesia. Jurnalis: Atma Nurdjati Editor: Tim Redaksi Post Views: 30 Navigasi pos Suhu Jony Tan : Ritual Injak Bara (Tahwee), Tradisi Spiritual Tionghoa ( Cina Benteng )untuk Penyucian Diri dan Ritual Keselamatan Jembatan Pelayanan Firman Tuhan Lintas Generasi