Bogor, 07 Mei 2026 — Upaya membangun karakter generasi muda melalui media kreatif mulai digagas kalangan penggiat seni dan budaya di Bogor. Salah satunya lewat program film edukasi Islami dan sejarah lokal yang dirancang menyasar pelajar di wilayah Bogor Raya.
Gagasan tersebut datang dari Rahmat Syabana, Divisi Kesenian PPSBI Bogor Raya, yang menilai dunia pendidikan membutuhkan pendekatan baru agar pesan moral dan budaya lebih mudah diterima generasi muda.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital membuat pola konsumsi informasi di kalangan remaja berubah sangat cepat. Konten hiburan mendominasi ruang media sosial, sementara materi edukatif berbasis budaya dan akhlak masih minim.
“Kalau anak muda sekarang dekat dengan film dan media visual, maka pendidikan karakter juga harus masuk lewat media yang mereka sukai,” kata Rahmat saat ditemui di Bogor, Kamis (07/05/2026).
Program tersebut akan memproduksi film pendek dengan muatan sejarah Bogor, pendidikan akhlak, nilai budaya Sunda, hingga persoalan sosial remaja seperti bullying dan pergaulan bebas.
Film-film itu nantinya dibuat dengan konsep sederhana, ringan, dan dekat dengan kehidupan pelajar agar mudah dipahami serta dapat diputar di sekolah maupun komunitas masyarakat.
Rahmat menjelaskan, Bogor memiliki kekayaan sejarah yang dinilai layak diangkat menjadi karya visual edukatif. Selain memperkenalkan sejarah daerah, film juga diharapkan mampu memperkuat identitas budaya generasi muda.
“Kita ingin anak-anak mengenal kembali nilai silih asih, silih asah, silih asuh yang menjadi bagian penting budaya Sunda dan tetap relevan sampai sekarang,” ujarnya.
Tak hanya fokus pada produksi film, program tersebut juga akan membuka pelatihan sinematografi dasar bagi pelajar dan komunitas kreatif muda.
Pelatihan itu meliputi teknik penulisan naskah, pengambilan gambar, akting, hingga editing video menggunakan perangkat sederhana seperti telepon genggam.
Rahmat mengatakan keterlibatan pelajar dalam proses produksi menjadi langkah penting untuk menumbuhkan kreativitas sekaligus mengarahkan penggunaan media digital ke aktivitas positif.
Untuk merealisasikan program tersebut, PPSBI Bogor Raya mendorong kolaborasi antara komunitas seni, sekolah, tokoh agama, pemerintah daerah, dan kalangan pengusaha melalui pola kerja sama pentahelix.
Kalangan dunia usaha diharapkan dapat membantu melalui dukungan CSR dan pembiayaan produksi, sedangkan sekolah dan tokoh agama berperan memastikan materi film tetap sesuai nilai pendidikan dan syariat.
Dalam tahap awal, program ditargetkan mampu memproduksi sedikitnya tiga film edukasi selama satu tahun dan menjangkau puluhan sekolah melalui agenda pemutaran keliling bertajuk “Layar Tancap Goes to School”.
“Ini bukan sekadar membuat film, tetapi membangun gerakan budaya dan pendidikan agar generasi muda memiliki karakter, memahami sejarah, dan bangga terhadap daerahnya sendiri,” tutur Rahmat.
Sumber: Zoel
Jurnalis: Romo Kefas
