Bogor – Pelikotanews.com
Perubahan cepat dalam lanskap dunia kerja akibat digitalisasi kini tidak lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang mulai terasa langsung di tingkat daerah. Hal ini mengemuka dalam kegiatan Studium Generale yang digelar oleh Universitas Ibn Khaldun Bogor, Senin (4/5/2026).
Ketua DPRD Kota Bogor, Adityawarman Adil, menilai bahwa tantangan utama yang dihadapi generasi muda saat ini bukan hanya keterbatasan lapangan kerja, tetapi juga ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri.
“Persoalannya bukan semata ada atau tidaknya pekerjaan, tetapi apakah lulusan kita benar-benar siap mengisi kebutuhan tersebut. Ini yang harus kita jawab bersama,” ujarnya.
Ia menegaskan, era digital telah menggeser kebutuhan tenaga kerja ke arah keterampilan praktis dan kemampuan adaptasi yang tinggi. Dalam kondisi ini, ijazah tidak lagi menjadi satu-satunya tolok ukur, melainkan harus ditopang dengan kemampuan nyata di lapangan.
Menurutnya, tanpa pembenahan serius dalam sistem pendidikan dan pelatihan, kesenjangan antara dunia akademik dan industri akan semakin melebar.
Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan Menteri Ketenagakerjaan RI, Yassierli, yang memaparkan bahwa struktur tenaga kerja nasional masih menghadapi tantangan besar. Dari total 154 juta angkatan kerja, sekitar 7,46 juta di antaranya masih menganggur.
Namun demikian, ia menilai bahwa peluang tetap terbuka lebar, terutama bagi mereka yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Industri saat ini bergerak sangat cepat. Mereka membutuhkan individu yang siap belajar ulang, bukan hanya mengandalkan apa yang didapat di bangku kuliah,” kata Yassierli.
Ia juga menyoroti sektor-sektor strategis yang diprediksi akan menjadi penopang ekonomi ke depan, seperti industri berbasis teknologi tinggi dan modernisasi sektor pertanian.
Sementara itu, Rektor UIKA Bogor, Prof. Dr. H. E. Mujahidin, mengungkapkan bahwa kondisi lokal di Kota Bogor menunjukkan tantangan yang tidak kalah serius. Data mencatat angka pengangguran mencapai 43.043 orang atau sekitar 7,95 persen, dengan lulusan SMK sebagai kelompok yang paling terdampak.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan integrasi data yang akurat serta kolaborasi lintas sektor agar kebijakan yang diambil benar-benar tepat sasaran.
“Kita tidak bisa bekerja berdasarkan asumsi. Data yang valid menjadi kunci untuk merancang solusi yang efektif,” tegasnya.
Diskusi ini menegaskan bahwa masa depan dunia kerja akan sangat ditentukan oleh kemampuan adaptasi, kemauan belajar, serta keberanian untuk keluar dari pola pikir lama. Generasi muda dituntut tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang di tengah perubahan yang terus berlangsung.
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi Pelikotanews.com
